Syaikhona Kholil

Ilustrasi by SulukSalik

Bulan Mei tanggal 25 tahun 1835. Abdul Latif, seorang kiai kampung sederhana, hari itu ia bahagia sekali. Bagaimana tidak, di hari itu ia menjadi seorang ayah bagi bayi kecil itu. Bayi itu ia beri nama Muhammad Kholil. Muhammad karena ia berharap bayi itu bisa meneladani nabinya. Kholil, barangkali, karena mengharap bayi itu juga bisa meniru Nabi Ibrahim, khalilullah, kekasih Allah Swt. Bocah itu tumbuh dalam lingkungan yang saleh dan penuh ketakwaan. Selain itu, bocah itu biasa menempa dirinya dengan berbagai macam tirakat.

Tempaan itu dimulai oleh ayahnya, Kiai Abdul Lathif. Ayah Syaikhona Kholil acapkali mengajak putranya itu untuk menghadiri acara-acara kemasyarakatan. Secara tidak langsung hal ini menumbuhkan semangat relijiusitas yang mendalam dalam diri beliau.

Tuan Guru Dhawuh, seorang buta yang alim adalah pelabuhan Kholil kecil selanjutnya dalam menuntut ilmu. Bak Sya’rani dan Ali Al-Khawash, Kholil kecil menyimak pengajaran Tuan Guru Dhawuh dengan seksama. Setelah itu beliau pergi ke Bungah, Gresik, dan Langitan, Tuban. Kemudian beliau ke Timur, menuju Canga’an Bangil. Dari catatan yang ditulis Kiai Kholil Yasin disebutkan bahwa Syaikhona Kholil mendapat derajat kewaliannya di pondok ini.

Dari catatan tangan Syekh Yasin al-Fadani dikemukakan bahwa Syaikhona Kholil pernah berguru kepada Syekh Abdul Ghani Bima, seorang ulama besar yang berkarir di Makkah, ketika berada di Surabaya.

Setelah itu beliau berguru ke Kebon Candi, Sidogiri, dan Winongan. Di Winongan beliau bertawasul di depan makam Kiai Abu Dzarrin. Konon, beliau mendapat ilmu laduni ketika di makam ini. Dalam salah satu manuskrip yang saya baca di Winongan, disebutkan bahwa Kiai Abu Dzarrin merupakan pengasuh Sidogiri di masa itu.

Setelah itu beliau lanjut ke Timur. Tepatnya di Jalen, Genteng, Banyuwangi. Beliau mengaji kepada Kiai Abdul Bashar di pondok pesantren Al-‘Ashriyah. Kiai Abdul Bashar adalah seorang kiai nyentrik yang berasal dari Banten. Dalam mendidik Syaikhona Kholil, Kiai Abdul Bashar lebih menekankan aspek haliyah. “Syaikhona Kholil datang ke sini ketika beliau sudah alim,” ujar Kiai Sa’ad Ali, pengasuh Pondok Jalen ketika saya temui pada akhir 2020. “Jadi yang diajarkan oleh Mbah Bashar adalah ilmu yang tidak ada di kitab,” kisah beliau.

Pasca menuntut ilmu di beberapa pesantren lokal, Syaikhona Kholil melanjutkan pengembaraannya ke Makkah. Syaikh Yasin mencatat bahwa beliau pergi ke Makkah tidak cuma sekali. Namun berkali-kali. Selama di Makkah beliau berguru kepada Sayyid Zaini Dahlan, Syaikh Usman b. Hasan Dimyathi, Syekh Nawawi Banten, dan terakhir beliau berguru kepada Syaikh Ali Rahbini. ‘Umar Abdul Jabbar mencatat bahwa Syaikh Ali Rahbini—beliau buta dan ahli ilmu qiraat—memiliki banyak santri dari Jawa (Nusantara masa itu).

Yusuf Sufyan dalam Fath Rabb al-Jalil, sebuah kitab yang mencatat tentang sanad Syaikhona Kholil, mencatat bahwa semasa mengaji kepada Syaikh Ali, Syaikhona Kholil dan dua orang kawannya diberi pesan oleh Syaikh Ali agar segera pulang ke Indonesia. Namun dua orang kawan beliau tidak pulang, melainkan melanjutkan ke Mesir. Sementara beliau taat dan pulang ke Indonesia. “Itulah sebabnya ilmu beliau bermanfaat, dan kedua kawannya itu tidak manfaat dan tidak masyhur.” tulis Yusuf Sufyan.

Sementara itu Gus Dur menulis dalam biografi Kiai Bisri bahwa Syaikhona Kholil adalah kiai yang hafal Alquran lengkap beserta qiraah sab’ah. Dan Syaikh Yasin menambahi bahwa Syaikhona Kholil selalu mengkhatamkan Alquran setiap hari. Barangkali keistiqamahan inilah yang menjadi keistimewaan beliau.

Melihat perjuangan yang demikian, tentu tak heran jika beliau menjadi kiai yang masyhur akan kealiman dan keramatnya.

Ilustrasi by SulukSalik

Konon, Hurgronje mencatat sebuah fenomena menarik tentang santri di akhir abad 19. Fenomena itu dikenal dengan nama “ngetan”. Ngetan secara harfiah berarti pergi ke timur. Para santri yang berasal dari ‘barat’ biasanya akan menyiapkan bekal untuk mengembara ke arah timur.

Raden Hasan Mustapa, misalnya. Beliau mencatat bahwa setelah dirasa sudah cukup belajar di Jawa Barat, maka beliau melanjutkan pengembaraannya menuju Surabaya, tepatnya di daerah Sidosermo, kemudian melanjutkan ke Bangkalan, ke Syaikhona Kholil. Maka pantas saja jika di Bangkalan pada zaman itu menjadi semacam pusat pendidikan para santri. Bangkalan semacam menjadi gerbang sebelum para santri menjadikan Mekkah sebagai pelabuhan ilmiah terakhir mereka.

Dalam Al-‘Iqd Al-Farid, Syaikh Yasin mencatat bahwa mata rantai keilmuan (sanad) mayoritas ulama Indonesia di abad 19 bermuara kepada dua orang Nusantara: kalau tidak Syaikhona Kholil, ya Syaikh Mahfuzh Termas. Hal ini setidaknya memberikan satu gambaran tentang sentralnya posisi Bangkalan di masa itu.

Mengenai sentralitas kedudukan Syaikhona Kholil, Syaikh Yasin menulis dalam catatan beliau:

وتخرج على يديه أكثر من نصف مليون نفس من أنحاء إندونيسيا من بين هؤلاء ثلاثة آلاف أئمة أعلام يشار إليهم بالبنان في جزيرتي جاوا سومطرا وجزيرة مادورا، ويطلق عليهم اسم الكياهي بمعنى العالم الكبير، ومنهم أكثر من مائتي عربي يطلق على كل واحد منهم اسم العلامة أو العارف بالله أو الفقيه

Lebih dari setengah juta santri dari seluruh penjuru Indonesia pernah belajar kepada beliau. Di antara mereka, ada tiga ribu orang yang menjadi imam alim yang menjadi panutan. Mereka berasal dari Jawa, Sumatera, atau pun Madura. Masing-masing dari mereka digelari dengan nama “Kiai” artinya seorang alim besar. Di antara para santri itu, ada dua ratus orang lebih yang bersuku Arab. Mereka dijuluki dengan “Allamah”, “Arif Billah”, atau pun “Faqih.

Demikian keterangan dari Syaikh Yasin. Keterangan ini memberi satu gambaran utuh (meskipun soal jumlah santri yang sedemikian banyak itu mungkin harus diteliti lagi) tentang pengaruh dari Syaikhona Kholil di mata dunia pesantren Nusantara. Pengaruh beliau tentulah sangat luar biasa hingga sedemikian banyak orang tua mempercayakan agar anaknya beliau didik.

Bahkan tak hanya pribumi, masyarakat Arab pun banyak sekali yang mengais ilmu dari beliau. Kita tahu, di antara yang paling masyhur adalah Habib Salim bin Jindan. Selain beliau, Syaikh Yasin juga menyebut beberapa nama:

  1. Habib Abdullah b. ‘Ali Al-Haddad Bangil. Syaikh Yasin menggelari beliau dengan “Quthb al-Din” (pusat agama) dan Abu al-Asrar.
  2. Sayyid Muhammad b. Ahmad Al-Habsyi.
  3. Muzahim b. Salim Bawazir.
  4. Syaikh ‘Audh b. Sa’id Al-Umawi Al-Qurasyi.
  5. Sayyid Hasan b. Abdur Rahman b. Smith Al-‘Alawi. Menurut Syaikh Yaain, beliau datang ke Bangkalan untuk meminta ijazah hadis musalsal ‘Asyura.
  6. Sayyid ‘Umar b. Sholih Assegaf.
  7. Sayyid ‘Alwi b. Muhammad Bilfaqih.

Demikian di antara masyarakat Arab yang disebut oleh Syaikh Yasin pernah akhadza ‘anhu, alias mengaji (tabarukan) kepada Syaikhona Kholil. Bahkan beberapa cerita oral juga menyebutkan tak jarang masyarakat etnis Tionghoa datang meminta doa dan amalan kepada beliau. Fakta-fakta ini setidaknya mengungkap peranan sentral Syaikhona Kholil sebagai tokoh pesantren masyhur di tahun-tahun itu.

Ilustrasi by SulukSalik

Pada bulan Agustus tahun 2011, tahun yang harusnya menyenangkan itu berubah menjadi mimpi buruk yang amat mengerikan. Muncul sebuah kelompok teroris bengis yang menamakan diri Islamic State of Irak and Syria atau ISIS. Sesuai doktrin salafi mereka, mereka tak segan membunuh sesama muslim yang tak sealiran dengan mereka. Situs bersejarah termasuk makam para ulama, di antaranya Imam Nawawi, turut dihancurkan karena dianggap sebagai idolatry (pemberhalaan). Di tahun-tahun itu, menghinggap sebuah paranoia global (kecemasan dan ketidakpercayaan). Jangankan yang non-muslim, yang muslim saja ketakutan membaca berita teror-teror horor ISIS.

Sekitar seabad lalu, dunia Islam sedang mengalami krisis identitas. Umat muslim saat itu sedang berusaha menyesuaikan diri dengan invasi Barat. Puncaknya, muncullah satu gerakan yang dinamai modernisme Islam. “Masalah mendasar yang dialami oleh muslim modern adalah,” tulis Smith dalam Islam in Modern History, “mereka ingin membuat Islam penuh gairah sehingga masyarakat Islam bisa menjadi masyarakat yang direstui oleh Tuhan.”

Namun sayang, semangat modernisme Islam ini berjalan amat berlebihan. Di semenanjung Arabia terjadi satu pemberontakan besar dengan tujuan hendak menguasai Hijaz, provinsi di mana Makkah dan Madinah berada. Gerakan radikal itu bernama Wahabisme. Makam para sahabat dihancurkan, pandangan keilmuan diseragamkan, banyak ritus dianggap heretik.

Sebagaimana kita gelisah akan ISIS—atau baru-baru ini Taliban—para ulama Nusantara di masa itu pun juga gelisah dengan gerakan ini. Kiai Wahab Hasbullah, seorang aktivis dan santri yang sangat bersemangat, mendirikan banyak organisasi untuk membendung gerakan serupa agar tidak tumbuh di Indonesia. Puncaknya, ia bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, dan kiai-kiai lain yang berjumlah 66 orang pergi sowan ke guru spiritual dan pembimbing dunia akhirat mereka. Guru tersebut adalah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Mereka datang ke sana untuk meminta petunjuk akan kegelisahan mereka.

Menurut penuturan Kiai As’ad, puluhan kiai ini segan untuk datang ke Kademangan, kediaman Syaikhona Kholil di akhir hayatnya. Sehingga puluhan kiai itu pergi ke Jengkebuan, kediaman Syaikhona Kholil sebelum Kademangan. Jengkebuan kala itu diasuh oleh menantu beliau, Kiai Muntaha. Di langgar Jengkebuan, para kiai tersebut menumpahkan kegelisahan mereka kepada Kiai Muntaha. Mereka meminta Kiai Muntaha agar menghadap sang mertua, Syaikhona Kholil, dan menyampaikan kegelisahan tersebut. Diharapkan sang guru bisa memberikan pencerahan kepada mereka.

Selepas pertemuan itu, Kiai Muntaha tidak berani menyampaikan keluhan para kiai kepada Syaikhona Kholil. Namun konon, Syaikhona Kholil telah mengetahui pertemuan di Jengkebuan tersebut. Sehingga beliau menyuruh seorang kebule’en (khadim) untuk pergi ke Kiai Muntaha dan menyampaikan surat Al-Shaff ayat 9-10  yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka. Padahal Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya walau orang kafir benci. Dialah yang mengutus utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama meskipun orang musyrik membenci.”

Ayat di atas secara eksplisit menunjukkan bahwa agama Islam akan selalu menang dan tak akan bisa dikalahkan oleh apapun. Pandangan Syaikhona Kholil ini merupakan pandangan yang khas ahlus sunnah sekali. Beliau percaya bahwa agama ini telah dijaga oleh Allah Swt sehingga upaya apapun untuk menghancurkan agama ini akan sia-sia. Sehingga tak perlu gelisah berlebihan dengan adanya gerakan modernisme Islam. Keyakinan semacam ini merupakan keyakinan Asy’ariyah, yang menengah-nengahi antara paham Muktazilah dan Jabbariyah.

Muktazilah beranggapan bahwa seluruh perbuatan makhluk itu ditentukan oleh makhluk itu sendiri. Sementara Jabbariyah menganggap bahwa makhluk tak punya kehendak apa-apa, semuanya telah digariskan oleh Allah. Abu Hasan Al-‘Asy’ari menengah-nengahi bahwa seseorang memiliki kasb, ikhtiyar. Dengannyalah seorang hamba memiliki kehendak. Meskipun kehendak ini masih ada di dalam lingkup takdir. Dari sini bisa disimpulkan bahwa beliau menolak gerakan modernisme Islam (modernisme Islam dalam tulisan ini berarti purifikasi Islam). Belakangan santri beliau ada yang menjadi tokoh modernisme Islam (dalam konotasi positif), yakni Kiai Mas Mansur.

Sebuah manuskrip kuno yang ditemukan di Jengkebuan juga menyebutkan penolakan beliau terhadap ha’ula’ al-muhammadiyyah (Secara harfiah berarti: kelompok “Muhammadiyah tersebut”. Apakah maksudnya organisasi Muhammadiyah? Wallahu a’lam). Dalam fragmen manuskrip tulisan tangan itu beliau menulis:

ومن كان منكم يريد قراءة القرآن فيلقرأه بالحروف العربية لا بالحروف اللاتينية أو الحروف الجاوية لأن قراءته بغير الحروف العربية تؤدي إلى اللحن المحرم وبعد ذلك كله فلا حاجة لكم إلى الانتظام إلى هؤلاء المحمدية

Jika kalian hendak membaca Alquran, maka bacalah dengan huruf Arab, jangan huruf latin atau huruf Jawi. Karena membaca dengan selain huruf Arab bisa menyebabkan lahn yang diharamkan. Oleh karena itu tak perlu kalian berorganisasi dengan kelompok Muhammadiyah itu.

Hingga akhirnya setahun sebelum NU berdiri, beliau mengutus Kiai As’ad menuju Kiai Hasyim dan memberi restu NU berdiri. Demikianlah sikap Syaikhona Kholil terhadap gerakan modernisme Islam.

Ilustrasi by SulukSalik

Dia beralih dari satu gurun pasir ke gurun pasir yang lain menghindari kejaran penjajah Perancis. Dia adalah tokoh besar melawan kolonialisme. Dia adalah Abdul Qodir Al-Jaza’iri. Seorang pejuang yang sangat ditakuti penjajah Eropa. Bahkan konon Gus Dur mengatakan tokoh reformis dunia Islam idola beliau adalah Abdul Qodir Al-Jazairi dan Khomeini.

Mengenai hubungan antara Syaikhona Kholil dan Abdul Qodir Al-Jaza’iri, dalam Khulasah Wafiyah, kitab yang masih berbentuk manuskrip, Habib Salim b. Jindan menulis:

ثم رجع إلى الحجاز فاستوطن بها مرة أخرى ولقي بمكة في هذه المرة بالإمام الولي الكاشف الحبيب أبي بكر بن عبد الله بن طالب العطاس وحصل منه إجازة وأخذ عنه ولقي بالأمير عبد القادر بن مصطفى الجزائري الثائر على دولة الاستعمار ببلاد الجزائر

Kemudian Syaikhona Kholil pergi lagi ke Hijaz (setelah dari Mesir). Beliau tinggal di sana untuk kesekian kalinya. Dan beliau bertemu dengan Al-Imam, seorang wali kasyaf, Habib Abu Bakar b. Abdulloh b. Thalib Al-Aththas. Syaikhona Kholil mengambil ijazah dan berguru kepadanya. Dan Syaikhona Kholil juga bertemu dengan Amir Abdul Qadir b. Mushthafa Al-Jaza’iri, seorang tokoh revolusi melawan penjajah di negeri Aljazair.

Barangkali hal ini adalah salah satu bukti bahwa perjuangan anti kolonial yang dibawa Syaikhona Kholil bukanlah sesuatu yang instan. Melainkan sesuatu yang memang telah ditanamkan oleh figur-figur yang beliau temui sebelumnya.

Sementara, dari kalangan ulama Nusantara, Syaikh Nawawi Banten barangkali adalah salah satu tokoh yang cukup mempengaruhi beliau dalam mengobarkan semangat nasionalisme. Syaikh Nawawi, kita tahu dari catatan Hurgronje, adalah seorang tokoh sentral dalam melawan kolonialisme Belanda. “Dia adalah seorang sederhana,” tulis Hurgronje dalam Mekka, “seorang Arab mungkin akan mengira ia adalah pria biasa ketika bertemu di jalan, tanpa sadar bahwa sebetulnya ia adalah pengarang dua puluh buku ilmiah berbahasa Arab..”

Menurut Hurgronje, pengaruh Syaikh Nawawi sangat besar di Nusantara hingga “tangannya mendapat kehormatan diciumi oleh orang-orang Jawa”. Karena semangat anti kolonialisme yang beliau usung sangat kental, maka beliau masuk dalam daftar orang yang diwaspadai Belanda. Syaikhona Kholil, kita tahu dari ‘Iqdul Farid karya Syaikh Yasin, berguru kepada beliau. Secara tidak langsung, semangat ideologi anti kolonial ini menular kepada beliau.

Dalam buku biografi Syaikhona Kholil karya Tim Kajian Biografi, disebutkan bahwa bukti kebencian beliau terhadap kolonialisme ini tertuang dalam tulisan tangan beliau di atas amplop berkop perusahaan kapal dan pengiriman Belanda, Scheepsagentur voorheen J. Daendels & Co. Di amplop itu, beliau menulis:

اللهم إن هذا لص سارق فاقطع يده ورجله

“Ya Allah! Sesunggahnya ini (Hindia Belanda) adalah perampok dan pencuri. Potonglah tangan dan kakinya.”

Baso menyebutkan, bahwa narasi yang sama pernah diungkapkan oleh Dr. Satiman Wirjosandjojo dalam Kongres Kebudayaan tahun 1919 di Solo.

Tulisan “Hubbul Wathan minal Iman” yang terdapat di pinggir kitab beliau juga menunjukkan bahwa beliau selalu menularkan semangat ini kepada para santrinya. Kita tahu, catatan pinggir, atau dalam bahasa Arab disebut “hamisy” adalah catatan yang biasanya ditulis agar si guru tidak lupa menyampaikannya ketika mengajar. Maka slogan hubbul wathan tampaknya sempat menjadi tema pengajaran yang beliau bahas ketika itu. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika Bangkalan merupakan episentrum perlawanan pesantren melawan kolonialisme di masa itu.

sumber : https://alif.id/read/author/kholili-kholil/

Share:

Berita Lainnya

Cikal Bakal Guru Ulama NUsantara

Jika kita membahas tentang sosok ulama karismatik di kota dzikir dan sholawat memang tidak akan pernah lekang dari ingatan, sosok Waliyullah kelahiran kemayoran bangkalan yang

Sejarah Nahdlatul Ulama

Lahirnya NAHDLATUL ULAMA dimulai dengan adanya kelompok yang melakukan  pembaruan agama islam yang anti maulid, anti ziarah, anti tawasul, dll. Bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah.